CERPEN DAN UNSURNYA


TEMAN ATAU SETAN                              
Karya     : Yoga Nur Rohman
            Tanggal 25 Juni lalu 2006. Aku lulus dari SMA Negeri 1 Boyolali dan aku menlanjutkan sekolah dengan kuliah ke salah satu perguruan tingi di Jakarta. Aku sedikit canggung yang berasal dari desa kecil ke kota besar. Aku ke Jakarta hanya sendirian aku menggontrak di salah satu kontrakan di dekat kampusku dengan tujuan tidak telat kuliah dan tidak memerlukan uang transportasi. Agar bisa ditabung.
            Sebagai mahasiswa baru aku belum mengenal betul seluk beeluk kampusku. Dari teman, guru, mapun lingkungan disekitarnya. Aku Cuma menggenal teman di kontrakanku. Dan teman kontrakanku pun cuma satu antara lain Edy. Dia juga berasal dari Jakarta, tetapi jaraknya cukup jauh dari kampus dan dia juga pernah bilang kalau menggunakan transportasi pasti telat ke kampus karena macet.
            Kami selalu berangkat bersama, tetapi saat pulang aku tidak pernah bersamanya. Dia memiiki banyak teman dikampus. Dia juga masuk  ke sebua geng dikampus. Mulai saat itu Edy menjadi anak yang malas, sering telat berangkat ke kampus, sering bolos, dan sering pulang larut malam.
            4Waktu demi waktupun berlalu, aku sudah di semester 4. Sedikit  demi sedikit aku mengenal teman – teman baru dan aku mulai mendapatkan teman lebih luas. Edy menawarkan aku untuk masuk ke sebuah kelompoknya. Aku tidak berminat sama sekali utuk masuk ke kelompok tersbut. Karena menurutku kelompok tersebut menjurus ke negatif. Aku takut aku akan seperti Edy yang menyampingkan kuliahnya.
            5Temanku terus membujuku untuk ikut masuk ke geng tersebut. Sampai – sampai bila aku menolak masuk ke geng tersebut, aku tidak lagi dianggap teman olehnya. Sejenak aku berfikir,
                        “apalah susahnya masuk kelompok dari pada kehilangan seorang teman!!”
            Dengan berat hati, aku setuju untuk masuk ke geng tersebut. Aku diajak untuk datang menemui teman Edy. Setelah bertemu aku diguyur berbagai pertanyaan tentang minatku masuk ke geng tersebut. Ternyata tidak semudah itu aku dianggap sebagai anggota geng tersebut. Minggu depan aku harus datang lagi, tetapi dalam tempat yang berbeda, yaitu sebuah gedung bekas pabrik. Yang  digunakan sebagai maekas rahasia.
            Aku tidak tau tempatnya, dan aku ragu ingin datang ke gedung tersebut. Aku beralasan kepada Edy agar aku tidak pergi ke tempat tersebut.
            Betapa terkejutnya setelah aku dating ke pabrik tersebut. Di depan pabrik aku sudah disambut oleh dua anggota geng. Aku diseret dan dibawa ke sebuah ruangan di dalam pabrik,
                        “apa yang kalian lakukan ?”
                                    “ diam !!!”
                        “ Kemana kalian akan membawaku ?”
                                    “ Kau diam saja jangan banyak bicara !!!”
            Sampai di suatu ruangan, ternyata sudah banyak orang yang menunggu kedatanganku. Aku disuruh berduel dengan salah satu anggota. Aku langsung menolak. Tetapi mereka langsung memeganggiku kembali dan memukuliku habis – habisan. Tidak beberapa lama kemudian Rudy (ketua geng ) mengatakan
“cukup !!” dan langsung mengajakberjabat tangan denganku sebagai tanda masuk anggota geng.
            Aku dikasih tau Edy pantangan – pantangan, aturan – aturan, dan kewajiban- kewajiban yang harus dilakukan anggota geng. Semenjak masuk geng aku dituntut agar sering berkumpul bersama anggota lain. Mereka tidak hanya berkumpul tetapi mereka juga patungan untuk membeli manuman keras dan kadang – kadang bila ada uang mereka membeli narkoba setiap ditawari aku selalu menolak. Aku tidak boleh pulang sebelum ketua geng mengijinkan. Padahal sudah larut malam dan aku juga belum mengerjakan tugas – tugas dari dosen – dosenku.
            Aku coba meminta pulang :
                        “ maaf, bolehkah saya pulang ?”
            Tetapi salah satu anggota bilang :
                        “ untuk apa cepat – cepat pulang ? “
                                    “ aku masih harus mengerjakan skripsiku !”
                        “untuk apa kau mengerjakan skripsimu ? mending kau bersenang – senang dengan kami !”
            Aku pun diam dan tidak berani melawan mereka karena mereka dalam keadaan mabuk “
            Di pagi hari pada pukul 03.00 aku baru pulang karena mereka sudah tidur. Aku sampai di kos pukul 03.30 aku sanga lelah dan beristirahat sebentar. Karena aku ada kuliah pagi. Saking pulasnya aku bangun pukul 09.00 padahal pelajaran mulai pukul 08.00. aku tidak diperbolehkan masuk oleh dosenku. Aku kembali pulang dan ingin mengerjakan tugas – tugas yang lain. Tetapi Edy sudah menyuruhku untuk pergi ke gedung besas pabrik untuk menemui ketua geng.
            Aku mulai merasakan hal – hal yang aku takutkan. Pelajaranku menjadi tertinggal dan nilaiku menjadi turun. Sehari – hari aku selalu pergi siang dan pulang pagi. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan aturan – aturan tersebut dan memutuskan untuk keluar. Tetapi Edy melarangku untu keluar dari geng tersebut. Dia bilang padaku jika aku keluar maka aku akan dibunuh. Berhari – hari, berminggu – minggu, sampai berbulan – bulan aku memikirkan hal tersebut. Aku mencba pergi ke psikolog untuk meminta solusi darinya. Ternyata aku dianjurkan untuk pindah keluar kota.
            Aku selalu memikirkan hal tersebut. Aku mulai menyesali semua kejadian yang terjadi kepadaku. Aku lebih sering merenung dikampus. Aku sudah tidak focus kepada pelajranku. Ada seorang temanku bernama dina dia ternyata memperhatikanku akhir – akhir ini. Dia bertanya – tanya :
                        “ hey…. Rony ,kenapa kamu akhir – akhir ini kelihatan murung ?”
                                    “ tidak apa – apa kok din ,”
                        “ aku tau kamu pasti lagi ada masalah “
                                    “ kenapa kamu bisa berfikiran begitu ?”
                        “ kamu sekarang berubah ,”
                                    “Berubah bagaimana ?”
            (Aku berusaha menyembunyikan masalahku dari Dina, tetapi dina terus memojokanku)
                        “ kamu sekarang bukan lagi Rony yang dulu aku kenal ,”
                                    “ kok bisa ?”
                        “ iya, dulu kamu adalah orang yang rajin, tapi sekarang kamu menjadi anak yang malas yang tidak pernah mengerjakan tugas dan sering berangkat terlambat.”
                                    “ mungkin hanya perasaanmu saja!!”
                        “ aku yakin kamu pasti ada masalah , cerita saja kepadaku, mungkin aku bisa bantu.”
                                    “ iya Din, aku lagi ada masalah “
            Aku menceritakan semua masalahku, dan dina memberiku motivasi – motivasi yang memberiku semangat untuk memperbaiki semua kesalahanku.            
            Diam – diam aku mengurus surat pindahku ke luar kota agar tidak satupun  orang yang tau. Aku pindah ke salah satu perguruan tinggi di Bandung.dan meneruskan kuliahku tanpa harus memikirkan hal itu lagi. Mulai saat itu aku berhati – hati dalam berteman dan aku tidak mau kejadian itu terulang kembali.

UNSUR INTRINSIK CERPEN        :
1.      Tema                         :          -   Pergaulan  
-         Bukti :
-         Keseluruhan cerita
2.     Amanat         :           -    kita harus berhati – hati dalam memilih teman jangan                                                 sampai kita terjerumus ke arah yang negative.
-         Kalimat terakhir paragraph terakhir :
-         “Mulai saat itu aku berhati – hati dalam berteman dan aku tidak mau kejadian itu terulang kembali”
3.     Penkohan                 :
Ø  Aku / Rony :                      a.         Hemat
-         Bukti : .
-         paragraf 1
-          Aku ke Jakarta hanya sendirian aku menggontrak di salah satu kontrakan di dekat kampusku dengan tujuan tidak telat kuliah dan tidak memerlukan uang transportasi. Agar bisa ditabung.
       b.        sulit bergaul / menyesuaikan diri
-  bukti :
-     Sebagai mahasiswa baru aku belum mengenal betul seluk beeluk kampusku. Dari teman, guru, mapun lingkungan disekitarnya. Aku Cuma menggenal teman di kontrakanku. Dan teman kontrakanku pun cuma satu antara lain Edy. Dia juga berasal dari Jakarta, tetapi jaraknya cukup jauh dari kampus dan dia juga pernah bilang kalau menggunakan transportasi pasti telat ke kampus karena macet.
       c.         cerdik
- bukti :
- paragraph terakhir :
- Diam – diam aku mengurus surat pindahku ke luar kota agar tidak satupun  orang yang tau. Aku pindah ke salah satu perguruan tinggi di Bandung.dan meneruskan kuliahku tanpa harus memikirkan hal itu lagi.
2.               Edy
       a. malas :
- bukti :
- Mulai saat itu Edy menjadi anak yang malas, sering telat berangkat ke kampus, sering bolos, dan sering pulang larut malam
       b. malas
- bukti :
-         - Temanku terus membujuku untuk ikut masuk ke geng tersebut. Sampai – sampai bila aku menolak masuk ke geng tersebut, aku tidak lagi dianggap teman olehnya.
       c. mudah berteman
- Kami selalu berangkat bersama, tetapi saat pulang aku tidak pernah bersamanya. Dia memiiki banyak teman dikampus.
-. Paragraf 3
- Kami selalu berangkat bersama, tetapi saat pulang aku tidak pernah bersamanya. Dia memiiki banyak teman dikampus.

4.     Karakter        :
5.     Alur                            :                       Mundur
-         Bukti :  kalimat 1 paragraf 1
-         Tanggal 25 Juni lalu 2006.
      Maju
-         Bukti :
-         Paragraph 4 kalimat 1:
-         Waktu demi waktupun berlalu, aku sudah di semester 4
6.     Latar / setting          :                                   di Jakarta
-         Bukti :
-         Paragraf 1
-         Tanggal 25 Juni lalu 2006. Aku lulus dari SMA Negeri 1 Boyolali dan aku menlanjutkan sekolah dengan kuliah ke salah satu perguruan tingi di Jakarta. Aku sedikit canggung yang berasal dari desa kecil ke kota besar. Aku ke Jakarta hanya sendirian aku menggontrak di salah satu kontrakan di dekat kampusku dengan tujuan tidak telat kuliah dan tidak memerlukan uang transportasi. Agar bisa ditabung.
                   Dikontrakan :
-         Bukti :
-         Paragraf  1
-         . Aku ke Jakarta hanya sendirian aku menggontrak di salah satu kontrakan di dekat kampusku dengan tujuan tidak telat kuliah dan tidak memerlukan uang transportasi
                   Di pabrik :
-         Bukti         :
-         Pragraf 6 :
-         Minggu depan aku harus datang lagi, tetapi dalam tempat yang berbeda, yaitu sebuah gedung bekas pabrik
                   Ruangan dalam pabrik :
-         Bukti         :
-         Paragraph 8
-         Sampai di suatu ruangan, ternyata sudah banyak orang yang menunggu kedatanganku
                  
7.     Amanat                     :           mari kita berhati – hati dalam memilih teman, kita                                                 pasti terpengaruh dari teman baaik ataupun                                                            buruk.
8.     Gaya Bahasa            :           normal
9.     Sudut Pandang       :           orang pertama, pelaku utama

1 komentar: